Dunia ku Merah

  • 0
Dahulu, langit begitu berasa hitam, kelam, gelap, dan dingin. Selalu merasa kesepian di tengah keramaian, hingga tak mampu menatap cermin ketika berdiri tegap. Menikmati dingin-nya malam, makan di tengah keramaian. Sunyi senyap dunia yang ku rasa. Dahulu aku punya teman kecil, dia selalu diam ketika aku bercerita, selalu tersenyum melihat ku. Tak pernah jenuh menunggu ku. 11 tahun aku berteman bersama dia, namun suatu hari aku berkata kepadanya, "Terlalu lama kau menemani-ku  aku melepaskan kau pergi dengan tenang, aku sangat berterima kasih karena hanya dirimu yang menemani aku di kala aku sepi, kita tumbuh bersama, kita mempunyai kemiripan sifat yang sama." dan saat itu pula dia tersenyum kepada ku, wajahnya tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Seminggu lamanya aku pergi dan ku tinggalkan dia, dan ketika aku kembali, dia pergi menghilang. Saat itu aku merasa bagian dari diriku yang selama ini menemani di kala aku sendiri. Aku cukup bertahan sampai saat ini untuk tidak mencarinya, karena sebelum aku sudah merelakan-nya  Seiring berjalannya waktu, Aku menemukan dunia yang baru, bertemu dengan orang banyak. Disana aku melihat seseorang yang berbeda dari pada yang lainnya. Salahnya aku tak mampu berbuat apa-apa. Kini dia sudah tahu apa yang ku rasakan. Dia yang membantu ku menuntun untuk melihat dunia itu banyak memiliki warna. Dahulu kala memang aku mengetahui banyaknya warna, namun warna yang paling melekat adalah warna abu-abu, karena warna tersebut perwakilan dari sosok manusia itu sendiri. Warna abu-abu yang beraneka ragam. Bila warna abu-abu tersebut di beri warna hitam sedikit maka akan menjadi hitam, demikian sebaliknya bila di beri warna putih.Sekarang berbeda, dunia ku berwarna merah, ya merah itu darah, bisa menjijikan bisa juga menyatakan berani. Aku membenci warna hijau, karena seseorang yang berdarah sama dengan ku, mengalir sama derasnya, aku sangat membencinya! Aku ingin melupakannya  Terima kasih kepada seseorang yang mengajari banyak hal, memberi warna di dunia ku. Dunia ku yang dulu seperti carut marutnya benang, sekarang setiap memikirkan moment bersamanya membuatku tersenyum. Aku tidak tahu jalan kemana nanti kaki ini melangkah, biar bagaimana pun setidaknya dia mengetahui apa yang ku rasakan, tidak seperti kejadian dahulu yang aku tidak bisa berbicara sama sekali sampai sakitnya menangis tanpa air mata, terluka tanpa darah. 

No comments: